Rabu, 23 November 2011

contoh-contoh artikel


Nazaruddin dan Keteladanan di Hari Anak Indonesia
OPINI | 23 July 2011 | 07:47 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon01.jpg52 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon02.jpg1 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon03.jpgNihil

Anak Indonesia di tengah hari Anak 23 Juli ini, setiap hari disuguhkan keteladan kebohongan dan ketidakjujuran oleh manusia dewasa.
Suguhan media masa yang berlebihan tentang nyanyian Nazaruddin, bantahan Anas Urbaningrum dan petinggi demokrat lainnya merupakan keteladanan sulitnya membedakan antara kejujuran dan kebohongan. Terbongkarnya kasus sontek massal Siswa kelas VI SD Negeri Gadel II, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur, menunjukkan keteladanan kejujuran sudah tidak begitu penting. Anak tumbuh karena kasih sayang sehingga butuh teladan kejujuran dan kasih sayang. Perilaku elite politik yang korup, saling tuding dan fitnah mempertontonkan perilaku kebohongan merupakan pelajaran sangat buruk bagi anak. Kebohongan dan ketidak jujuran elite yang dipertontonkan di depan publik, secara langsung merupakan pembelajaran yang menyebabkan krisis keteladanan.
Terkait peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli, dapat menjadikan momentum bagi seluruh bangsa ini untuk mengutamakan kepdulian terhadap hak anak. Menjadikan inspirasi untuuk melakukan pemenuhan anak sebagai faktor utama dalam pengambilan kebijakan publik dan tingkah laku kehidupan manusia dewasa.
Perlindungan anak Indonesia harus menjadi kepedulian dan merupakan tanggung jawab bersama orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Kepedulian terhadap anak adalah juga melakukan perlindungan anak berupa, pemenuhan hak-hak dasar yang meliputi hak agama, kesehatan, pendidikan dan sosial. Perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Bukan hanya hangatnya kasus nyanyian Nazaruddin tetapi terbongkarnya kasus sontek massal Siswa kelas VI SD Negeri Gadel, membuat harga kejujuran semakin mahal. Al siswa murid SD tersebut yang dikenal murid cerdas diminta gurunya memberikan
sontean kepada teman-temannya saat ujian nasional. Fenomena
menyedihkan ini justru telah dipaksakan mengotori kepolosan dan kejujuran dunia anak. Cerminan ini semakin menunjukkan bahwa saat ini untuk mencapai tujuanr
Harus menghalalkan segala cara termasuk merobohkan nilai kejujuran tersebut. Sayangnya ketidakjujuran tidak hanya mendominasi pada dunia politik dan dunia bisnis saja, tetapi sudah merasuk pada dunia pendidikan yang sangat luhur dan merampas
dunia anak yang penuh kepolosan
Selama ini di rumah, orang tua sudah berusaha mengajarkan kasih sayang dan kejujuran pada setiap anaknya. Tetapi media masa selalu mempertontonkan kekerasan dan ketidakjujuran oleh elit politik. Orang tua selalu meminta anak jujur, tapi di sekolah malah diajari untuk berbuat curang,
Kejujuran adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Peristiwa contek masal SD gasel dan kasus nyanyian Nazaruddin menunjukkan bahwa di jaman modern ini harga kejujuran semakin langka dan semakin mahal. Karena semakin mahal maka ketidakjujuran meraja lela dan menjadi hal yang biasa. Ketidakjujuran semakin tumbuh subur ditengah miskinnya jiwa murni kejujuran. Kejujuran yang semakin langka malah dianggap asing bagi sekelompok manusia yang sudah menafikkan luhurnya kejujuran.
Pemberitaan media masa yang berlebihan tentang nyanyian Nazaruddin adalah ancaman dari sekelompok masyarakat yang mulai mendewakan ketidakjujuran. Cerminan ini menunjukkan bahwa saat ini untuk
mencapai tujuan harus menghalalkan segala cara termasuk merobohkan nilai
kejujuran tersebut. Fatsun politik yang sering mengatakan bahwa ketidak jujuran dalam kepentingan yang lebih besar adalah sebuah filosofi yang masih harus terus dipersoalkan.
Goethe mengatakan kata bijaknya bahwa, orang yang berbohong itu sentiasa ingin melarikan diri sedangkan tiada seorang pun yang mengejarnya namun orang yang benar itu berani seperti singa. Tampaknya kata bijak tersebut semakin nyata di dunia penuh kepalsuan ini. Untuk menegakkan ejujuran yang semakin mahal harus
segarang dan berani seperti singa.
Melihat perkembangan dunia modern ini membuat nilai luhur semakin terabaikan.
Fakta inilah yang mulai membuat miris bila hal ini dikaitkan dengan kehidupan
anak. kejujuran memang harus dilatih sejak dini. Meski dengan kejujuran kadang akan mendatangkan manfaat dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang akan menuai kehancuran. Kejujuran sepahit apapun yang akan dijalankan dan sebesar apapun resikonya akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Kejujuran hanya menyakitkan bagi dia yang telah mengabaikannya. Bila seseorang telah membiasakan diri dengan segala sesuatu perbuatan yang tulus dan ikhlas maka dia akan menuai kebahagiaan dan berada dalam pergaulan yang jujur.
Tetapi bagi seseorang yang sudah mendewakan ketidakjujuran maka sebenarnya ada perasaan terasing, perasaan terbuang dan terendahkan yang berkecamuk dalam otaknya. Bila kebaikan masih kuat dalam pikirannya, dia akan mendekat dan memandikan dirinya dengan air sejuk ketulusan dan keikhlasan yang sebetulnya telah lama
dirindukannya. Tetapi bila otaknya telah semakin keras akan berbagai perbuatan
mulia, dia akan menyingkir dengan upaya keras untuk melupakan kebaikan yang telah membuatnya gelisah. Buah dari melakukan kebohongan adalah kehinaan di dunia dan siksa di akherat. Kebohongan akan merusak segala hal dan akan memicu kemunafikan. Akibat dari kebohongan adalah cacian dan penyesalan. Orang yang selalu berbohong tidak punya rasa malu.


Diam membisu lebih baik daripada berbohong, lisan yang jujur awal dari kebahagiaan.
Dalam kehidupan ekonomi dan bisnis manusiapun nilai luhur kejujuran semakin tipis. Kebiasaan berbohong memicu kemiskinan dan kebohongan merupakan penghancur keimanan. Mengharapkan keuntungan dengan ketidakjujuran, adalah awal dari
kerugian. Bila ada harta yang bisa dicapai dengan ketidak-jujuran, itu berarti bahwa sebenarnya ada harta yang juga bisa dicapai dengan kebaikan, bila sesorang ihklas, sabar dan berjalan di arah yang benar. Dengan kejujurannya, orang yang jujur akan menduduki posisi yang tidak akan didapatkan orang -orang yang berbohong dengan kebohongannya.
Momentum hari anak dan banyaknya keteladanan buruk manusia, hendaklah sejak dini orang tua senantiasa mengajarkan kejujuran pada anak. Orangtua harus menjelaskan bahwa bahwa banyaknya kebohongan para elit politik bukan berarti terdapat krisis keteladanan. Masih ada manusia dan pemimpin jujur yang harus diteladani. Tidaklah pedang tajam di genggaman laki - laki yang gagah berani lebih mulia
daripada kejujuran. Kejujuran merupakan kemuliaan, meski engkau membencinya. Dan kebohongan adalah sebuah kehinaan, meski engkau menyenanginya. Barangsiapa yang memahami hakekat kebohongan, maka dia akan menaruh perhatian terhadap kejujuran.
Di masa depan kehidupan duniawi tampaknya akan semakin didominasi ketidak jujuran. Anak-anak yang berjiwa jujur akan terlindungi lagi dicintai, sementara orang yang berbohong terhina lagi direndahkan. Tidak ada pedang seperti kebenaran dan tidak ada pertolongan seperti kejujuran. Hendaklah anak-anak dijauhkan dari ketidakjujuran, meski kejujuran kadang sering merugikanmu. Namun niscaya kejujuran sangat bermanfaat bagi kehidupan dan langkah selanjutnya.
Sehingga anak harus diajarkan menjauhi kebohongan meski ia menguntungkan, namun sejatinya kebohongan merugikan. Hendaklah selalu berlaku jujur meski kejujuran akan membakar dengan api ancaman. Kejujuran adalah tiang agama, pilar etika, dan pangkal wibawa. Ketiganya tidak akan tegak kecuali dengan kejujuran. Bersabarlah dengan kejujuran. lambatnya datangnya kekayaan adalah ujian kejujuran manusia dan ujian ketekunan dan kerja keras seseorang dalam mencapai keberhasilan. Niat tulus, sabar dan kejujuran merupakan mutiara yang langka dalam kehidupan ini adalah modal kekayaan yang luar biasa. Selamat hari anak, buah hatiku. Jadikanlah kejujuran sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai senjata pamungkasmu dan niat yang tulus dan ihklas harus selalu mendominasi langkahmu.





Kompas cetak kemarin (Kamis, 10 Maret 2011) memberikan ulasan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Ada lembaran atau halaman khusus yang membahas masalah kejujuran dan korupsi. Bahkan, ulasan itu dituangkan dalam beberapa halaman. Sungguh isinya begitu menarik. Mengapa? Karena itu berkaitan dengan kebiasaan anak-anakku di rumah.
Sejak dini, kami (aku dan istri) menanamkan kejujuran kepada ketiga anakku. Kejujuran dalam arti bahwa anak harus mengenal tanggung jawab. Ia ada berada di tengah orang tua dan saudara-saudaranya. Ia harus belajar bertanggung jawab atas kelakuannya terhadap orang tua, saudara, dan lingkungan. Jadi, ia harus belajar menghargai jika ingin dihargai. Ada tiga bentuk kejujuran yang kutanamkan kepada anak, yakni kejujuran kepada Tuhan, kejujuran kepada diri, dan kejujuran kepada lingkungan.
Kejujuran kepada Tuhan
Disembah dan tidak disembah, Tuhan adalah Tuhan. Dia tidak membutuhkan bantuan manusia dan makhluk lainnya. Dia adalah Maha Mandiri dan Dia adalah Maha Perkasa. Dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya, Dia menguasai alam raya (makrokosmos dan mikrokosmos). Namun, itu tidak berlaku sebaliknya bagi manusia. Oleh karena itu, anakku harus mengenal-Nya dengan baik.
Aku menanamkan kebutuhannya kepada Tuhan. Tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Tuhan, kita tidak berkuasa atas sekecil apapun. Jadi, manusia mempunyai ketergantungan yang teramat sangat kepada Tuhan. Manusia butuh Tuhan, tetapi Tuhan tidak butuh manusia. Agar disayang Tuhan, ya mendekatlah kepada-Nya. Bagaimana mungkin permintaanmu akan dikabulkan Tuhan sementara kamu tidak mengenal-Nya?
Setiap pulang kerja, aku sering ditanya anak-anakku, “Aku pijetin, Pak?”
Mendengar pertanyaan itu, tentu saja aku mengangguk senang. Namun, di balik anggukan itu, aku sudah menangkap maksud anakku. Tumben bersikap begitu baik, sedangkan aku pun belum melepas sepatu. He..he..he… Dan itu benar: anakku minta dibelikan buku bacaan baru. Melihat kebaktiannya kepadaku, aku pun menuruti keinginannya. Begitu pula jika kita berdekatan kepada Tuhan. Keinginan kita pasti dituruti pula oleh-Nya.
Kejujuran kepada Diri
Suatu hari, aku mengajak anak pertamaku pergi ke kota Solo. Ada beberapa tujuan aku mengajaknya: menemaniku agar tidak mengantuk, mendidik, dan mengajarkan kejujuran sambil bepergian. Dengan ditemani anakku, aku menyopiri mobil dengan tenang. Aku sering ditanya sehingga aku pun tidak mengantuk. Lalu, aku mengenalkan etika berkendara: tidak boleh menggunakan HP, memberi kesempatan kepada pengendara lain jika ingin menyalip, atau berhenti untuk menolong ketika bertemu orang yang minta pertolongan.
Teramat kebetulan, hari itu, aku bertemu dengan seorang ibu yang memboncengkan dua anaknya. Di tengah gerimis hujan, motornya macet. Spontan, aku pun berhenti. Aku meminta anakku agar berada di mobil. Lalu, aku pun keluar untuk membantu ibu itu. Alhamdulillah, aku bisa membantu menghidupkan motornya. Dan terucaplah doa yang baik dari mulutnya: Terima kasih, Pak. Semoga keluarga Bapak baik-baik saja. Amin! Dari balik kaca mobil, anakku asyik melihatku. Lalu, aku menoleh ke arahnya sambil mengacungkan jempol tangan ke arahnya. Dan anakku pun tersenyum! (mirip sinetron, ya?)
Kepada anakku, aku menanamkan kejujuran ini. Pada intinya, anakku harus bersikap jujur bahwa ada pihak kedua ketika sendirian. Ada pihak ketiga ketika kita berduaan. Ada pihak keempat ketika kita bertiga dan seterusnya. “Anakku, kita tidak terlepas dari pengamatan Tuhan. Oleh karena itu, berhati-hatilah jika berbuat sesuatu. Jika kita ingin mendapat kebaikan, maka rajinlah berbuat baik!”
Kejujuran kepada Lingkungan
“Sakit nggak kalau kamu dicubit?” tanyaku suatu hari kepada anak pertamaku. Anakku tertunduk, lalu ia pun malah menangis. Mengapa? Karena adiknya juga menangis. Namun, penyebab menangisnya berbeda. Anak keduaku menangis karena mainannya rusak, sedangkan anak pertamaku menangis karena merusak mainan adiknya. Aku pun menatap tajam kepadanya. Oleh karena itu, terulurlah tangan anak pertamaku kepada adiknya sebagai tanda maaf karena telah menyakitinya. Jika tidak ingin disakiti, janganlah kita suka menyakiti orang lain.
Sering kita menonjolkan ego karena kita tidak bersikap jujur. Kita suka berdalih hak azasi manusia ketika kita berlaku sesuka hati tanpa peduli lingkungan. Kita berangan-angan bahwa kita hidup di planet Mars yang tidak berpenghuni. Lalu, seenaknya pula kita menghidupkan tape baru sekeras-kerasnya tanpa peduli tetangga yang sedang sakit gigi. Tetangga itu sedang sakit. Mana wujud rasa empati dan simpatimu kepadanya? Jika kamu berdalih bahwa tape itu milikmu, silakan kendalikan suaranya agar tidak masuk ke rumah orang lain. Nyatanya, bunyi tape yang keras itu masuk ke rumah tetangga, tanpa permisi pula. Jadi, penggunaan hak azasi kita dibatasi hak azasi orang lain. Kita harus peka lingkungan!
Demikianlah aku menanamkan kejujuran kepada keluargaku. Sungguh kisah di atas benar-benar terjadi. Ini bukan cerita rekaan. Ketiganya pernah kulakukan, bahkan hingga hari ini. Alhamdulillah, istri dan ketiga anakku mulai menikmati buah dari kejujuran itu. Senyata-nyata nikmat adalah kebahagiaan.
Selamat pagi dan selamat beraktivitas. Semoga kisah di atas menginspirasi kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. Terima kasih.



Bencana Alam:
Ada sekitar 28 tenaga kerja Indonesia (TKI) yanh bekerja sebagai perawat (nurse) dan pekerja perawat (care workers) di daerah tsunami Jepang. 15 Di antaranya belum bisa dikontak.

Crisis Centre Kemenakertrans untuk Tsunami Jepang menyatakan hal itu dalam rilisnya berdasarkan hasil pantauan dari Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS) pada pukul 09.30 WIB, Minggu (13/3/2011).

Mereka tersebar di beberapa prefektur yang terkena tsunami, sebagai berikut:

1. Miyagi (jumlah nurse 3 dan careworkers 6 orang)
2. Iwate (careworkers 2)
3. Fukushima (nurse 4)
4. Aomori (nurse 4 dan careworkers 9)

"Khusus di Prefektur Aomori semua selamat dan berada di rumah sakit dan panti jompo. Sedangkan di tiga prefektur lain komunikasi belum dapat dilakukan karena jaringan rusak sehingga situasinya belum terpantau jelas," jelas Crisis Center Kemenakertrans.

Tim evakuasi KBRI telah tiba melalui jalur darat ke daerah bencana dan pihak JICWELS akan tetap memantau dan menyampaikan laporan keadaan TKI di 3 daerah.

Perkembangan terakhir tentang para nurse dan careworkers akan dipantau terus. Kemenakertrans membuka Crisis Centre Tsunami Jepang di nomor 0815 744 7776, 0816 164 2613, 0815 187 3081 dan 0815 187 3081. Juga dapat dibuka website www.pemagangan.com.


Contoh Artikel Koran:
Membunuh Media, Mencederai Warga
Ditulis oleh Bimo Nugroho
Senin, 06 September 2004 00:00
Sumber: Opini - Koran Tempo

Apakah kita memiliki kebebasan? Apakah kita merasa memiliki kebebasan? Apakah kita cuma seolah-olah merasa memiliki kebebasan?
Kebebasan secara esensial membedakan manusia dari makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu, kebebasan menjadi asasi manusia, baik hak maupun kewajiban. Jadi, jawaban atas pertanyaan pertama menjadi haqul mutlak adanya: ya, kita memiliki kebebasan.

Apakah kita merasa memilikinya atau tidak, itu ditentukan oleh tingkat kesadaran sosial-politik tiap individu. Maka, muncullah gradasi kebebasan yang perbedaannya secara halus dipengaruhi oleh pendidikan, bacaan, dan pergaulan seseorang. Orang berjuang keras supaya berpendidikan, kaya, dan punya jaringan luas, ujung-ujungnya toh, memperbanyak pilihan untuk bebas. Sebaliknya, orang bisa mengabaikan sekolah, kekayaan, dan koneksi luas, karena ia merasa tanpa itu semua ia sudah menjadi manusia bebas. Kekayaan dan kekuasaan tidak mempunyai nilai ketika keduanya tak menambah pilihan bebas. 

Bahkan kekayaan dan kekuasaan bisa menjadi mengerikan tatkala menindas kebebasan.
Pada saat manusia menindas kebebasan, pada titik itulah sesungguhnya ia cuma seolah-olah merasa memiliki kebebasan. Ini adalah sebuah kesadaran palsu. Sebab, ketika ia membunuh kebebasan, setali tiga uang pula ia sedang mencederai kemanusiaannya.
Kasus Bambang Harymurti

Pengadilan atas Bambang Harymurti dan dua wartawan Tempo hari ini, juga peristiwa-peristiwa yang menimpa lembaga pers lainnya seperti majalah Trust, harian Rakyat Merdeka, dan Jawa Pos, bukanlah semata-mata kasus hukum, melainkan terlebih merupakan kasus pembunuhan atas kebebasan dan pencederaan terhadap asasi kemanusiaan. Mengapa demikian?

Analogi kerja jurnalis seperti halnya kerja seorang dokter barangkali bisa menerjemahkan filsafat kebebasan dengan kata-kata yang sederhana dalam tulisan yang singkat ini. Tugas jurnalis sama dengan tugas dokter, yaitu menyelamatkan manusia untuk hidup bebas. Dokter memeriksa, menelisik, dan memberi obat, bahkan bila perlu melakukan operasi bedah. Jurnalis mewawancara, mencari, dan memberi informasi, bahkan bila perlu melakukan investigasi. Dokter mempunyai prosedur standar kerja dan kode etik, jurnalis pun wajib bekerja sesuai dengan prosedur standar dan kode etiknya. Jika tidak, keduanya bisa dituduh malapraktek dan dipecat dari profesinya.

Apakah dengan mengikuti prosedur standar dan kode etiknya, dokter dan jurnalis dipastikan dapat menyelamatkan manusia untuk hidup bebas? Apakah dokter yang baik pasti menjamin pasiennya tak akan mati? Apakah wartawan yang baik pasti menjamin khalayak mendapat informasi yang tak terbantahkan? Belum tentu. Pasien mungkin mati dan informasi bisa salah. Tetapi, dokter dan jurnalis tak bisa dihukum jika ia sudah bekerja sesuai dengan prosedur standar dan kode etiknya.

Siapa yang mau jadi dokter dan jurnalis jika dalam setiap proses kerjanya bisa diganggu gugat atau dikriminalisasi? Setiap intervensi dari siapa pun terhadap kerja mereka justru bisa mengacaukan hasil dan independensi pekerjaannya. Di situlah dokter dan jurnalis mempunyai kebebasan otonom dalam kerja profesinya. Kebebasan itu diberikan bukan untuk enak-enakan, kerja semaunya, melainkan demi menjamin kemaslahatan hidup manusia.

Nah, bagaimana jika semua standar kerja dan kode etik sudah diikuti, toh pasien mati atau berita ternyata salah? Pergulatan manusia dengan kebebasan telah menemukan sebuah konsep yang dikenal luas: kebebasan memperoleh informasi. Pihak yang dirugikan dapat mengajukan klaim atas kebenaran informasi, dan dokter atau jurnalis wajib memberikan jawaban kepada pihak yang berhak tersebut.

Indonesia belum memiliki UU Kebebasan Memperoleh Informasi dan lembaga yang memfasilitasi warga seperti Komisi Informasi. Tetapi, ada Ikatan Dokter Indonesia dan Dewan Pers yang bisa menjadi forum arbitrase untuk klaim atas kebenaran informasi.
Bila proses arbitrase ini dijalankan, khususnya untuk kasus pers, kita bisa meyakini bahwa sesungguhnyalah kita memiliki kebebasan pers dan memang merasa memiliki kebebasan pers. Sebaliknya, kriminalisasi pers dengan tuntutan di pengadilan hingga membunuh media (bahkan overkilling!) hanya menunjukkan kesadaran palsu akan kebebasan. 

Mereka yang melakukannya barangkali tak menyadari bahwa membunuh media berarti mencederai warga, termasuk kemanusiaannya sendiri.
Penulis mendukung pernyataan Komite Antikriminalisasi Pers yang meminta supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili kasus Tempo membebaskan Bambang Harymurti dan dua jurnalisnya. Lebih dari sekadar persoalan Tempo, kasus ini, seperti halnya yang menimpa media-media lain, merupakan persoalan bersama dalam upaya menegakkan demokrasi dan kebebasan. 

Sebagai warga, kita telah dicederai karena media-media tak lagi bebas memberikan informasi yang kita butuhkan. Pilihan informasi yang kita punya pun makin terbatas.
Citizen Lawsuit, Sekali lagi sebagai warga, kita tak bisa membiarkan kasus-kasus kriminalisasi pers ini makin banyak dan makin merugikan publik. Bagaimana caranya? Paling tidak ada dua: cara preman dan cara nonpreman atau yang beradab.

Mau gunakan cara preman? O, gampang, pakai saja kekerasan, intimidasi, sabotase, bahkan kalau perlu gunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan, seperti provokasi-provokasi yang telah meluluhlantakkan berbagai wilayah negeri ini. Mau cara yang lebih halus, cari pengacara yang lincah, main suap jaksa dan hakim sehingga keputusan pengadilan bisa diatur. Di luar pengadilan, terbitkanlah media cetak atau curilah izin frekuensi untuk bikin radio atau TV yang isinya mendukung upaya kita menggebuk lawan. 

Tetapi, saudara-saudara, cara-cara preman tersebut justru akan menjauhkan kita dari kebebasan dan kemanusiaan kita sendiri. Jadi, tak usahlah dipakai karena hasilnya hanya akan menjadikan kita seolah-olah merasa memiliki kebebasan.
Bagaimana dengan jalan nonpreman? Dalam aktivitas penulis bersama beberapa program LBH Pers, ada salah satu alternatif jalan hukum yang bisa ditempuh untuk melawan kriminalisasi pers, yaitu Citizen Lawsuit. 

Sebagai warga negara kita bisa menuntut perubahan kebijakan yang wajib dilakukan oleh lembaga-lembaga negara untuk menghentikan kriminalisasi pers.
Sayang, tulisan ini punya keterbatasan ruang untuk menerangkan sisik-melik Citizen Lawsuit, tetapi pada intinya Anda bersama rekan-rekan Anda (termasuk saya) dapat meminta Mahkamah Agung (MA) untuk mengeluarkan Peraturan MA (Perma) yang mengikat jajaran hakim di seluruh Indonesia untuk menggunakan UU Pers Nomor 40/1999 sebagai aturan khusus dalam menyelesaikan permasalahan akibat pemberitaan pers.

UU Pers itu memang tidak sangat sempurna, tetapi paling tidak menjamin kita sebagai warga negara untuk mendapatkan informasi lewat pers. Dengan kebebasan pers, tidak berarti media dan pekerjanya bisa seenak-enaknya melansir berita karena ada standar kerja dan kode etik yang harus mereka ikuti. Jadi, kalaupun beritanya salah, kita bisa melakukan klaim lewat Dewan Pers, karena kita punya hak dan kebebasan untuk memperoleh informasi, tanpa harus membunuh medianya. Karena membunuh media berarti mencederai diri kita sendiri sebagai warga negara.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar